Langsung ke konten utama

Anak Soleha adalah Sumber Kekuatan

Kali ini aku ingin bercerita masa-masa saat aku hamil anak ketiga. Lebih dari empat tahun yang lalu.

Ada satu hal yang mengesankan, saat kehamilanku memasuki trimester ketiga. 

Saat itu aku masih semangat melakukan aktifitas seperti biasa. Setiap hari bangun pagi, memasak, mencuci pakaian, mengantar jemput suami kerja dan mengantar jemput anak pertamaku yang saat itu sudah hampir naik kelas dua Sekolah Dasar. Maklum kami hanya mempunyai satu kendaraan untuk digunakan bersama.

Lalu anak keduaku?

Dialah balita kecil yang imut dan manja, terutama manja denganku. 

Meski begitu, ia sangat antusias menunggu kelahiran adiknya dalam perut. Seringkali putri keduaku ini membelai perutku dan mengajak bicara calon adiknya. Ia sangat sayang, begitu pengakuannya.

Hari berlalu. Aku masih dengan keseharianku. Mengerjakan tugas-tugas rumah tangga bahkan berlanjut sampai malam hari. Bisa dibilang gerakanku sedikit santai dan tak terlalu memaksa. Di saat aku merasa lelah, aku pasti beristirahat terlebih dulu sambil bermain-main dengan kedua anakku. Lalu lanjut lagi sampai selesai sebelum tidur malam.

Ada kalanya aku menyadari bahwa sesuatu yang terasa begitu berat, hanyalah sebuah tantangan. Kita hanya perlu mencari siasat agar setiap yang kita lakukan dapat berjalan tanpa memberatkan. Kita cari langkah termudah. 

Tapi ada satu pengalaman di luar semua itu.

Contohnya adalah jarak yang kutempuh sepanjang hari untuk mengantar jemput suami pergi dan pulang kerja, maupun mengantar jemput anak pertamaku pergi dan pulang sekolah, sementara aku dalam keadaan hamil.

Maka siasat apakah yang kugunakan untuk tetap dalam keadaan baik-baik saja?

Mungkin yang pertama adalah bersabar dan bertahan. Tetapi yng kedua, jelas semangat dan cinta.

Woihh...bicara cinta, tentunya soal hati. 

Di saat aku merasakan cinta yang sebesar-besarnya terhadap suami dan anak-anak, tentunya bersabar dan bertahan itu terlahir begitu saja. Klop satu paket menjadi powerful. 

Tapi cinta adalah sesuatu yang naik turun. Begitupun semangat. Ada kalanya naik, ada kalanya turun. Lalu apa?

Jangan lupa aku mempunyai anak kedua yang manja dan antusias menunggu kelahiran sang adik.

Suatu malam aku sedang mencuci piring dan gelas usai makan malam seperti biasa, ketika tiba-tiba listrik padam. 

Sesaat aku berpikir untuk menunda atau tetap melanjutkan pekerjaanku. Sangat tidak nyaman gelap-gelapan begini. Dan bagaimana dengan kedua anak perempuanku yang tak terdengar suaranya. Aku ingin memeriksa keadaan mereka sekalipun abah sebenarnya sedang bersama mereka.

"Ma, ini kubawakan lilin..."

"Supaya mama tidak gelap cuci piringnya..."

Sesaat lamanya aku merasa speechless. Aku melongok-longok apakah di depan juga sudah ada penerangan sekedar lilin. Apakah semua baik-baik saja.

"Kan aku sayang mama dan adek dalam perut..." lanjut anakku lagi.

Aku memandang sepasang mata yang ditimpa cahaya api lilin. Wajah anakku menjadi begitu cantik terkena pendarnya. Sebuah wajah tulus dan suara nan imut.

Duhai Allah yang Mahabesar...

Inilah sumber cinta, semangat, dan kekuatanku di antara hari-hariku yang berat. Aku mempunyai anak soleha seperti dia. Aku bersyukur ya Allah.

Alhamdulillah...



Komentar