Langsung ke konten utama

Cinta untuk Putriku




Foto: pribadi

Setiap ibu pasti punya cinta yang besar untuk putrinya. Dan salah sath bentuk yang paling populer adalah rajin mendandani putrinya bak bidadari kecil. Dengan ikat rambut warna-warni dan dengan gaun pesta yang berkilau, sampai sengaja menghias kamar putrinya dengan tema girly nan menawan.

Tapi pengalaman orang tidak semuanya sama. Walau begitu, setiap ibu pasti punya cinta yang besar untuk putrinya.

Nah ini ceritaku.

Foto: pribadi

Suatu hari, aku membuka-buka foto lama kami. Bukan pada album foto, tapi pada layar sentuh alias ponsel. 

Saat itu, sekitar lima tahun yang lalu, aku baru mempunyai dua anak perempuan (maklum sekarang nambah satu hehe...)

Keduanya masih kecil dan belum bersekolah. Hari demi hari berlalu seakan begitu cepat. Hampir setiap moment kuabadikan dengan cekrek-cekrek. 

Saat keduanya asyik bermain, foto. Saat mereka belajar membaca, foto. Saat kami jalan-jalan melihat daerah-daerah baru bersama abah, foto. Tak terasa sudah ratusan kali cekrek.

Foto: pribadi





Lihat pula foto-foto saat keduanya mengalami hari jadi. Maaf bukan pesta ulang tahun, melainkan hanya memakai gaun satin dan tile seraya memotong kue tart buatan sendiri lalu cekrek-cekrek.














Barulah kusadari dalam sejumlah foto lama tapi tak berdebu itu, aku begitu mengistimewakan kedua anak perempuanku. 

Dalam foto-foto itu, ekspresi mereka begitu ceria, polos, tergelak, tersenyum, dan mereka begitu bahagia.

Ada pula foto yang menampakkan deretan gigi yang rapi dan manis. Saat itu aku malah mengupload di medsos seperti berikut:

Foto: pribadi


Ada pula foto saat anak perempuanku itu masih berbalut kain sambil kugendong. Rambut dan pipinya masih segar dan basah. Foto sehabis mandi. Betapa lepas dan happy senyumnya. 

Dan aku tidak akan mengalami semua ini jika bukan karena beruntung. 

Aku berterima kasih pada abah yang membiarkanku hanya menjadi istri dan ibu di rumah. Aku punya banyak waktu untuk bermain bersama anak-anak, memasak menu kegemaran mereka, sampai tiba waktunya mereka tumbuh besar dan memasuki dunia sekolah.

Aku ingat pula, saat anak pertamaku menjalani hari-hari awalnya dengan seragam merah putih, aku tak lupa cekrek-cekrek.

Bahkan air mataku hampir meleleh, saat anak keduaku berada dalam ruang kelasnya dan aku mengintip dari kaca jendela.

Betapa cantik dan unyu anakku duduk di antara murid-murid lainnya. Dengan jilbab putih sedang memperhatikan guru mereka di depan kelas. 

Aku tak bisa tak terharu mengenang semua ini.

Sekarang mereka sudah tumbuh besar hampir memasuki masa remajanya. Keduanya insya Allah adalah anak cerdas di sekolahnya, dan penurut di rumah. Mereka mandiri dan relatif tidak menyusahkan. Keduanya cepat memahami apa yang kuinginkan.

Seperti inilah kira-kira CINTAKU untuk anak-anakku. 

Bukan berarti ibu yang tak punya banyak kebersamaan dengan putrinya, tak mempunyai cinta, atau kurang kadar cintanya. Semua ibu pasti punya cinta yang besar, dan bentuknya bisa apa saja. 

Semoga kelak, anak-anak kita memahaminya, dan mensyukurinya.

Bagaimana ceritamu?



Komentar