Langsung ke konten utama

Bening-bening Mata Gadis Kecil

Di masa sekolah dulu, paling tertarik membaca cerita tentang gadis kecil. Mungkin karena menjadi simbol kepolosan dan kasih sayang. Mungkin juga gadis kecil menunjuk jumlahnya yang hanya seorang, di masa yang harusnya bermain bersama banyak teman. Gadis kecil juga simbol kesepian.

Benar saja. 

Apa kabar gadis kecil itu sekarang?

Dua tahun sudah aku meninggalkan kota kecil. Dulu aku berada di sana dan melahirkan putriku teman bermainnya. Mereka berdua terpaut dua tahun. Jadi saat bayiku lahir, gadis kecil itu usianya sekitar dua tahun lebih saja.

Dia gadis yang cantik dengan kulit yang putih. Rambutnya hitam dan berombak sebahu. Lebih ke atas lagi. Tapi jangan membayangkan gadis kecil yang bersih dan wangi sesudah mandi dan berpakaian rapi. Sama sekali tidak.

Lis dia biasa dipanggil. Seorang kakak perempuannya berteriak-teriak bila Lis tak tampak bergumul dengan pasir di depan pagar kayu rumahnya. Sendirian entah sejak pagi masih dingin.

Aku pernah berdiri lama-lama di depan pagar kayu itu. Memperhatikan mengapa masakan lezat dijual di rumah seperti ini.

Bukan. Ini lebih pantas disebut gubuk. Kesan kumuh dari potongan kayu dan seng bekas tak bisa menyamakannya dengan sebutan rumah. Terlihat dari tempat pembeli berdiri, sebuah lemari reot dan bale tempat bapak Lis tidur kala itu.

"Beli apa??" suara ramah mamak Ecce. Ecce adalah kakak Lis.

Lamunanku buyar. 

Kutunjuk satu-satu masakan yang ingin kubayar. Ikan bakar dengan sambal tomat yang enak, sayur santan daun kelor dicampur jantung pisang dan pisang muda, resep masakan Kaili, suku mamak Ecce. Lalu ikan goreng ekor kuning.

Setelah menyerahkan sejumlah uang, aku pun pamit pulang. 

Foto: res.cloudinary.com

Sekilas kulihat Lis masih dengan adonan pasirnya. Botol dot yang tadi menggantung di bibirnya, sudah berpindah di jalan dan teronggok begitu saja.

"Tante mana ade..." kudengar dia menyapaku. 

Yang dia tanyakan adalah bayiku yang baru lima bulan. Terkadang Lis mampir ke rumah bermain-main dengan anakku yang kedua yang juga belum bersekolah. 

Di hari yang lain, aku sengaja duduk-duduk di gubuk jualan mamak Ecce. Sambil menggendong bayiku yang seumuran anak kakak Lis, cucu mamak Ecce. 

Kami mengobrol akrab. Ecce sebenarnya Lago, yaitu suamiku dan suaminya kakak-adik. Tetapi aku lebih cocok dengan ibunya dan tantenya yang tuna netra. Sama-sama orang tua, meskipun ya mamak Ecce tujuh tahun di atasku.

Pernah aku diperlihatkan selembar foto di masa jaya keluarga ini. Jaya karena mereka mempunyai lima orang pengiris bawang yang semuanya ibu-ibu. Industri bawang goreng mereka merajai kota meski hanya sebuah kota kecil. Mamak Ecce tampak gemuk dan jauh berbeda dengan look dia sekarang. Beberapa gelang emas besar-besar dan kalung bertengger di tubuhnya. Lis belum lahir kala itu.

Mamak Ecce jatuh sakit setelah melahirkan gadis kecilnya. Setahun lamanya. Untunglah Ecce sudah SMK, sudah pandai pula mengurus bayi Lis bersama tantenya yang tunanetra.

Bapak Lis hanyalah ojek orang-orang yang ke pasar dan sekolah. Artinya hanya mengambil penumpang sampai jam sepuluh pagi. 

Bapak Ecce berperawakan gendut dan tak banyak bicara. Tetapi juga sangat suka bercanda bersama Lis. Sering lewat di depan rumah kami, pergi sholat ke mesjid. Tapi ia tak pernah menyapa atau tersenyum.

Lis pasti menderita, bisikku teringat gadis kecil itu.

Masih ada fotonya bermain bersama ketiga anakku, dalam memori ponsel. Sekarang mungkin dia sudah mulai sekolah. Sudah sekitar enam tahun sekarang.

Setahun yang lalu aku mendengar kabar bapak Lis meninggal setelah sempat sesak nafas dua hari. Saat itu bulan puasa. Bapak Lis ingin sekali menyantap masakan daging kuda di warung makan. Sementara ia penderita darah tinggi juga.

Gadis kecil yang kerap minum teh encer dari botol dot nya yang berdaki, entah siapa yang membuatnya bisa tertawa-tawa sejak bapak Lis kembali ke pangkuan sang Pencipta.

Semoga kau baik saja, gadis kecil.

Komentar

  1. Mungkin lebih mengena jika "permintaan terakhir" judulnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan dong...

      Cerita ini adalah kenangan tentang seorang gadis kecil yang matanya bening jenaka, tapi tak terawat.

      Bentuk kangenku padanya...

      Hapus

Posting Komentar